Tips Memotret Milky Way Menggunakan Lensa Kit

Tips Memotret Milky Way Menggunakan Lensa Kit


Memotret bintang pada malam hari memang bukan sebuah perkara yang sulit dan juga bukan hal yang terlampau gampang. Apalagi jika yang Anda potret adalah Milky Way.

Milky way atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan galaksi Bima Sakti, merupakan  deretan kumpulan bintang yang bisa kita lihat dengan mata telanjang, jika kondisi lingkungan yang ada memadai.

Mengapa harus lingkungan yang memadai? Karena kita tak bisa memotret Milky Way jika kondisi tempat kita memotret terlalu banyak polusi cahaya, contohnya di area perkotaan yang banyak lampu-lampunya.

Tempat ideal untuk memotret Milky Way

Tempat yang paling ideal untuk memotret adalah areal pegunungan yang jauh dari pemukiman, ataupun pantai yang jauh dari rumah penduduk atau resort wisata.

Karena kondisi gelap yang benar-benar gelap menjadi salah satu prasyarat memotret Milky Way, hal ini tentu akan membawa kendala tersendiri bagi kita yang berniat untuk memotret.

“500 rule (600 rule) adalah aturan shutter speed yang lazim digunakan saat memotret milky way. Angka 600 (atau 500) dibagi dengan panjang fokal lensa yang kita gunakan, akan didapat jumlah shutter speed rata-rata yang harus kita pakai agar bintang tidak membentuk garis   ”

Kendala utama tentu mencari tempat yang mendukung untuk memotret, bagi yang suka naik gunung, berkemah ataupun berpetualang tentu itu hal yang enteng saja.

Jika Anda tak memiliki waktu untuk jalan-jalan mencari lokasi yang tepat untuk memotret Milky Way, salah satu kondisi yang bisa Anda manfaatkan untuk memotretnya adalah kala listrik padam. Yup, pemadaman listrik di beberapa daerah Indonesia memang sudah sangat menyebalkan, tapi itu juga bisa menjadi semacam blessing in disguise  bagi fotografer yang ingin memotret Milky Way.

gelap gulita, bisa menjadi momen yang paling tepat bagi Anda untuk mendapatkan foto Milky Way yang cakep.

Mari kita lihat langkah – langkah utama dalam memotret Milky Way ini dengan menggunakan lensa kit yang murah meriah.

1. Gelap dan gelap

Seperti sudah dijelaskan tadi, kondisi lingkungan gelap dan bebas polusi cahaya akan sangat membantu dalam memotret Milky Way, ingat polusi cahaya di sini bukan hanya dari lampu listrik saja. Kadang-kadang cahaya bulan yang terang benderang bisa menjadi sumber polusi cahaya.

Karena memotret dalam kondisi gelap bisa sangat merepotkan, silakan membawa berbagai peralatan penerang seperti lampu senter dan semacamnya.

Selain itu jika Anda memutuskan untuk memotret di daerah pegunungan atau pantai yang notabene suhu di malam hari atau subuh bisa membuat tubuh gemetar, silakan antisipasi dengan jaket atau baju hangat.

2. Kamera dengan pengaturan manual

Tentu saja kita memerlukan kamera untuk memotret Milky Way, jangan lupa juga pastikan kamera yang Anda miliki, punya pengaturan manual (biasanya disimbolkan dengan M).

Sebenarnya kita bisa saja memotret Milky Way menggunakan smartphone, apalagi beberapa aplikasi smartphone sudah mendukung pengaturan manual di kameranya, tapi mungkin akan kita bahas di lain waktu.

 

3. Cek posisi Milky Way dan pastikan terlihat serta tak tertutup awan

Untuk memastikan posisi Milky Way yang ingin dipotret, kita bisa mempergunakan aplikasi astronomi semacam Stellarium dan sejenisnya, silakan Anda googling atau mencari di toko aplikasi smartphone Anda..

Hal penting berikutnya, pastikan langit bersih dari awan. Karena, jika tertutup awan Milky Way jadi tak terlihat dong. Mungkin bisa, tapi biasanya hasilnya akan kurang maksimal.

4. Gunakan tripod

Tripod adalah perangkat esensial dalam memotret Milky Way, karena kita menggunakan teknik slow speed, supaya foto yang dihasilkan tidak blur pastikan Anda menggunakan tripod.

Jika ada, gunakan juga shutter release. Jika tidak punya, tak mengapa, Anda masih bisa memanfaatkan fitur timer di kamera.

5. Setingan kamera dan lensa

Sesuai judul postingan, kita akan menggunakan lensa kit untuk memotret Milky Way. Selain lensa ini merupakan salah satu lensa yang paling murah, juga yang paling banyak dimiliki oleh orang-orang.

Untuk masalah lensa, sebenarnya yang terbaik adalah jika Anda memotret dengan lensa lebar dan memiliki bukaan besar. Salah satu alternatif yang cukup menarik adalah Tokina 11-16mm f/2.8 untuk kamera APSC.

Untuk kamera sendiri, seandainya memungkinkan tentu lebih baik jika menggunakan kamera full frame. Dengan ukuran sensor yang lebih besar, menggunakan ISO tinggi  tidak terlalu jadi masalah.

Kembali ke pengaturan kamera dan lensa, pengaturan yang umum digunakan saat memotret Milky Way adalah di bukaan terbesar lensa dan ISO 800 – 3200. Untuk lensa kit umumnya bukaan terbesar ada di f/3.5 pada rentang 18mm.

Untuk shutter speed sendiri gunakan 20 – 30 detik, selain karena 30 detik waktu paling lama yang ada di kamera sebelum masuk mode bulb, rentang 30 detik biasanya sudah cukup untuk mendapatkan foto Milky Way yang baik. Lebih dari itu, bintang-bintang yang dipotret akan tampil seperti garis (star trail).

6. Komposisi foto dan foreground

Komposisi foto juga menentukan keindahan hasil akhir foto Milky Way kita nantinya. Oleh karena itu dianjurkan untuk menggunakan lensa lebar, dengan lensa lebar kita bisa lebih mudah memasukan foreground di foto.

 

Foreground di sini bisa berupa pepohonan, gunung, rumah, tenda atau apa saja. Bahkan diri Anda sendiri juga bisa jadi foreground hehe.

7. Jepret

Setelah semua pengaturan siap, kamera sudah tertata rapi di tripod, komposisi sudah tepat, silakan mulai memotret! Gunakan shutter release atau timer release agar kamera tidak bergoyang saat kita menekan shutter.

Ingat agar tidak menyentuh kamera sebelum selesai memotret, jika memungkinkan, strap kamera yang ada dilepas dulu agar tidak bergoyang tertiup angin.

Untuk hasil yang terbaik, gunakan format foto RAW agar hasil foto bisa maksimal saat diedit nanti di software semacam Photoshop atau Lightroom.

( http://www.saveseva.com/tips-memotret-milky-way-menggunakan-lensa-kit/ )

M. Syamsul Arifin 1740210055

 

Posting Komentar

0 Komentar