Optimis merupakan karakter yang indah dari seorang mukmin.
Mukmin sejati harus senantiasa berpikir positif dan memotivasi diri menjadi
pribadi yang memiliki visi akhirat, perfeksionis, dan punya standar yang tinggi
untuk perkara-perkara yang dicintai Allah.
Sikap optimis harus ditanamkan dalam hati manakala suatu
saat menghadapi badai masalah, ia akan tegar dan terus bersemangat mencari
solusi penyelesaian masalah. Tidak mudah putus asa dan yakin pasti ada hikmah
besar di balik semua takdir Allah. Islam mengajarkan umatnya untuk bangkit
menyongsong hari esok dengan obsesi baru, harapan dan semangat membara agar
hidupnya lebih baik, amalnya lebih shalih, imannya bertambah kuat, serta
hatinya dipenuhi buhul cinta kepada Allah, tidak menyesali peristiwa masa lalu
yang mungkin menumbuhkan kesedihan mendalam.
Dalam
Islam, optimisme menyertai kebenaran sebab merupakan bagian dari perilaku orang
ber iman. Allah mengingatkan Muslim agar tak bersikap lemah dan bersedih hati
karena Muslim merupakan orang-orang yang paling tinggi derajatnya, tentu jika
mereka memang benar-benar orang beriman.
Bagi
orang beriman, bersikap optimistis merupakan wujud keyakinan kepada Tuhannya.
Apalagi, Allah mengatakan Dia adalah sebaik penolong dan pelindung. Lebih jauh,
Amr Khaled, mubalig dan motivator ternama asal Mesir mengatakan, Allah
mengingatkan umat-Nya tak ada yang berputus asa dari rahmat-Nya, kecuali orang
kafir.
Optimisme
mestinya tertanam dalam lubuk hati paling dalam setiap Muslim. Jangan sampai
terhapus meski kiamat datang pada saat itu juga. “Bila hari kiamat tiba dan di
tangan salah seorang dari kalian terdapat tunas pohon kurma, tanamlah,” kata
Rasulullah yang terangkum dalam hadis riwayat Ahmad.
Amr
Khaled menjelaskan menge nai pernyataan Rasul dalam hadis itu pada bukunya,
Buku Pintar Akhlak. Ia mengatakan, tanamkanlah tunas-tunas kebaikan walaupun
harapan adanya buah tidak akan terlihat. Yang diminta Allah adalah usaha se
orang Muslim, sisanya serahkan kepada-Nya.
Dengan
demikian, sikap putus asa yang membuat seseorang akhir nya tak memperhatikan
persoalan Islam dan kehidupannya sangat berbahaya. Mestinya, urai Khaled, tak
sampai terucap, “Aku sudah lelah dan tak peduli lagi.” Yang diharap dari Muslim
adalah pernyataan sebaliknya.
“Aku
lelah namun akan tetap berusaha. Aku sedih tetapi harus tetap bekerja. Aku
menangis namun harus tetap berbuat.” Khaled mengisahkan bagaimana Rasul terus
memompakan semangat dan optimisme pada para sahabatnya, contohnya menjelang terjadinya
Perang Khandaq.
Tatkala
menggali parit dan Muslim sudah kelelahan, terlihat batu yang keras. Di tengah
keletihan dan didera kekhawatiran atas kepungan pasukan musuh, mereka
melaporkan hal itu kepada Rasul. Setelah mendengar laporan, pemimpin umat itu
menuju lokasi dan memukul batu tersebut hingga terlihat percikan api.
Dalam
kondisi kritis semacam itu, Muhammad berseru, “Allahu Akbar, Romawi pasti
dikuasai …’’ Para sahabat memandang satu sama lain. “Romawi pasti dikuasai?”
Muhammad kembali memukul batu keras itu dan berkata, “Allahu Akbar, Persia
pasti dikuasai.” Pada pukulan ketiga, batu itu pecah. Nabi menyalakan optimisme
umat.
Menurut
Khaled, optimisme berarti berpikir positif, yaitu percaya kepada Allah dan diri
sendiri. Jika sikap ini berkembang dalam setiap diri, Muslim akan selalu
berbaik sangka kepada Tuhannya, lalu bergerak berusaha mencapai apa yang
dicita-citakan hingga akhirnya terwujud.
Dan dalam
penelitian terbaru yang dipimpin Dr. John Gabrielli menyarankan, bahwa metode
optimisme sangat penting untuk melakukan pengobatan dan perawatan berbagai
penyakit mental. bahkan ada banyak penelitian menenegaskan bahwa optimis lebih
sehat daripada pesimis. Dengan demikian, optimisme adalah salah satu pengobatan
terhadap berbagai penyakit yang sulit tersembuhkan, dan mungkin hal-hal yang
paling penting adalah bahwa dalam kondisi optimisme sistem kekebalan tubuh
manusia bekerja dalam bentuk yang lebih baik.
(Ahmad Santoso/ 1740210037)

0 Komentar