Geliat Haroh Rebana Mahabaturrosul
Kebiasaan
ini sebenarnya sudah muncul sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Kisahnya, diawali
pada saat para pengikutnya menyambut kedatangan hijrah dari Mekkah ke Madinah
dengan sambutan nyanyian atau syair yang dikenal dengan shalawat dan iringan
tetabuhan alat musik rebana yang di Arab lebih dikenal dengan sebutan sagaat.
Seiring
dengan waktu, menjadi kesenian islami ini lebih dikenal dengan Hadroh, tersebar
ke segala penjuru. Termasuk di Kota
Kudus, Jawa tengah. Di kota kretek ini, perkembangan kesenian Hadroh
salah satunya di gaungkan oleh Hadroh Mahabbaturrasul yang digawangi oleh Budi
Ariyanto.
Kemunculan
Hadroh Mahabbaturasul di awali ketika mengiringi Habib Himy bin hasan Al aydrus
(alm), pendiri Majelis Rasulullah di Kudus pada saat mengisi acara di kampus
STAIN Kudus (sekarang IAIN ) “Awalnya namanya Hadroh Alhbabul Mustofa Darus
Syarof kemudian disuruh menganti Habib abdullah al muhdor dari yaman dengan
nama sesuai nama majelis Mahabbaturasul,” ungkap Budi.
Grub
Hadroh semakin eksis, apalagi di isi dengan personil anak-anak muda yang solid.
“kami ingin mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk ikut menyebarkan
kebaikan an kecintaan pada Allah dan nabi,” jelas Budi Ariyanto. Ya, anak muda
menjadi target karena generasi ini merupakan penerus dan menjadi modal besar
untuk menyebarkan islam ke penjuru dunia. Sejauh ini Budi kian optimis,
kesenian Hadroh dapat diterima masyarakat. Animo mempelajari kesenian Hadroh
terutamma di Kudus sangat besar. (Ahya Ainur Rofi/740210049).

0 Komentar