Manusia
paling rapuh yang tidak pernah mengharap perhatian dari manusia lain meskipun
terkadang membutuhkan bantuan orang lain karena makhluk sosial adalah aku. Aku
manusia biasa, sangat biasa, tidak banyak orang mengenalku. Bungkam adalah
caraku memahami orang lain. Namun mereka menganggapku aneh, kolot, menjijikkan.
Semesta selalu memihak mereka, semesta tidak menampakkan dirinya, entah rencana
apa yang sedang semesta rencanakan untukku. Apakah kali ini semesta akan
menjatuhkanku dari bangunan yang sangat tinggi? Aku hanya menelan ludah dan
tersenyum pahit mendengarkan omongan orang lain. Samar aku mendengarnya, namun
begitu mudah masuk ke dalam memori otak jangka panjang yang aku miliki.
Menyakitkan memang untuk orang yang selalu didewakan manusia lain, namun tidak
denganku. Semua tidak terasa menyakitkan sama sekali. Entah bius apa yang telah
menjalar di saluran darah sehingga aku tidak bisa merasakannya.
Aku
hidup dalam sebuah keluarga utuh, normal, namun dingin. Menyakitkan—sangat
menyakitkan. Mereka yang menganggap aku beruntung mempunyai sebuah keluarga
yang utuh adalah salah. Hujan badai datang menerpa namun tidak ada yang
mendekapku, tidak ada yang melindungiku, meskipun terkadang rasa cemas menghantui setiap anggota keluarga
yang kebetulan sedang berada di tempat yang terpisah, tetap saja di bawah atap
yang sama mereka mencari kehangatan untuk diri sendiri begitu juga aku, aku
selalu menyalakan api yang sanggup membakar perasaanku, yang sanggup menghangatkan
rasa yang entah bagaimana, membayangkan saja hampir tidak sanggup. Memang
benar, aku terlahir di keluarga sederhana, cukup, dan dipandang sebelah mata.
Pandangan derajat yang dimiliki manusia berbeda dengan pandangan Tuhan. Apa
yang menurut kita benar belum tentu benar di mata manusia lain. Harta dan tahta
sanggup merubah kepribadian seseorang. Memang kenapa jika aku miskin? Apakah
miskin merupakan sebuah aib yang perlu disembunyikan? Tidak. Jelas tidak. Tidak
ada orang yang terlahir miskin di dunia ini. Rasa bersyukur yang kian langka
membutakan manusia sehingga setiap manusia mendapat julukan si miskin dan si
kaya. Tuhan yang diyakini hanya ada satu tapi nyatanya sanggup mengubah pola
pikir manusia dalam hal menyembah. Perbedaan yang terjadi menjadi bukti manusia
mempunyai pola pikir yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
“Kita
tidak bisa melanjutkan hubungan ini.”
Sungguh,
kalimat itu masih jelas terngiang di kepalaku hingga saat ini. Mimpi yang telah
aku rajut seketika pecah berserakan ketika sosok pria yang telah aku yakini
sebagai pasangan hidupku memutuskan untuk pergi meninggalkan diriku. Inilah
yang aku takutkan sejak dulu. Perbedaan
yang tidak bisa disamakan sampai kapanpun, meskipun telah berusaha menyamakan
dengan mengorbankan segala sesuatu, namun jika semesta tidak mengijinkan semua
akan menjadi debu yang terbang tak kasat mata, tak ada artinya, sia-sia.
Pria
yang aku kenal sejak masih di bangku sekolah hingga aku lulus sarjana tidak
bisa menjamin untuk tingal bersama selamanya. Alasan klasik yang bisa ditebak
dan sangat menyakitkan membuat kepalaku sedikit pusing tak tertahankan.
Seharusnya aku tahu beginilah akhirnya, namun ego yang memaksakan keinginan
yang tidak cocok seolah menjadikan perbedaan itu tidak ada.
“Kenapa,
Lang?” tanyaku sedikit gemetar menahan air mata.
“Kita
berbeda,” jawab Gilang mengalihkan pandangan.
Gilang
memegang tanganku. “Maaf, aku telah mengingkari janji kita, Ra. Aku tahu ini
ketakutan terbesarmu. Aku benar-benar minta maaf, Ra.”
Aku
yang menahan air mata tidak kuasa lagi untuk menahannya. “it’s okay, Lang.
Memang Tuhan punya rencana yang lebih indah dibalik ini semua. Seharusnya kita
dari awal tidak memulai hubungan ini. Tapi kita sama-sama tidak bisa menahan
ego kita. Kita memang berbeda. Kita tidak bisa besatu sampai kapanpun.”
“Ara,
ini berat. Ini keputusan yang sangat berat. Di satu sisi aku tidak ingin
melepaskanmu. Namun, di sisi lain orang tuaku yang memaksaku untuk
meninggalkanmu, Ra,” Gilang mulai berkaca-kaca.
Aku
berusaha tersenyum, “Sudah, Lang. Ini sudah keputusan yang tepat. Kamu berhak
bahagia lebih dari ini. Jangan nangis. Cengeng banget sih kamu hehe.”
“Kamu
memang perempuan paling baik yang aku kenal, Ra. Aku benar tidak ingin
meninggalkanmu. Jika Tuhan kita satu, mengapa kita tidak bisa bersatu hanya
karena berbeda tempat ibadah?”
Pertanyaan
Gilang yang telah berlalu selama satu tahun itu masih jelas terngiang di
kepalaku. Perbedaan keyakinan yang telah memisahkan aku dengannya. Padahal
rencana umtuk merancang masa depan telah ada di depan mata. Skenario semesta
memang terkadang lucu. Aku kira semesta telah menjadi temanku, namun dia
tetaplah musuhku.
Tiga
tahun sudah kejadian itu belalu, aku tidak mengetahui kabar Gilang. Aku sibuk
bekerja sehingga membuatku lupa dengan rasa sakit yang hampir membuatku bunuh
diri. Sungguh luar biasa gila aku pada saat itu. Namun perlahan aku mulai
memaafkan keadaan hingga aku terbiasa dengan kepergian Gilang. Semesta tidak
menggangguku kali ini. Entah rencana apalagi yang ia persiapkan untuk
membunuhku lagi. Kehidupanku kini normal kembali. Sempat menyalahkan Allah atas
perpisahanku dengan Gilang adalah hal paling berdosa yang pernah aku lakukan.
Mengapa aku hancur sedangkan Allah pasti mempunyai rencana yang tepat untukku.
Tok tok tok!
Suara seseorang
mengetuk pintu ruangan kerjaku.
“Ya silahkan masuk,”
ucapku sembari membaca dokumen-dokumen penting dan tidak memperhatikan siapa
yang datang.
“Maaf, Bu. Ini ada tamu
yang katanya mau bekerja sama dengan bu Ara”
Aku berdiri sembari
menyambut tamu itu, “Gilang?”
Aku melihat Gilang
berdiri mematung di depanku. Aku benar-benar melihatnya kembali. Aku hanya
bermimpi kan? Katakan! Cepat katakan jika aku sedang bermimpi. Tidak mungkin
Gilang ada di sini. Dia telah enyah dari muka bumi ini. Mengapa semesta
lagi-lagi ingin membunuh diriku? Apa salahku kepadamu wahai semesta? Hatiku
kembali bergetar. Teringat kenangan di masa lalu antara aku dan Gilang. Ini
buruk sekali.
Gilang tercengang, “Ara?
Ini bener Aira Bilqis Husein?”
Aku salah tingkah, “Eh
iya benar, Gilang. Silahkan duduk”
“Nggak nyangka ya, Ra.
Ternyata kamu bakal jadi partner kerja aku. Kamu apa kabar, Ra?”
“Alhamdulillah baik,
Lang. Kalau kamu?” aku mencoba memberanikan untuk menanyakan kedaannya kembali.
“Alhamdulillah baik
juga, Ra meskipun kemarin sempat jatuh sejatuh-jatuhnya,” jawab Gilang sembari
senyum getir.
Aku terdiam, sejak
kapan Gilang mengucapkan rasa syukur seperti itu? Ada apa ini? Apa yang tidak
aku tahu? Ah ini pasti Gilang hanya salah ucap.
“Kenapa kok bisa gitu,
Lang?” aku mencoba menghilangkan pikiran yang tidak jelas itu.
“Apa kamu tahu, Ra.
Setelah kamu pergi dari hidupku keluargaku jadi hancur. Ayah dan ibuku
bercerai. Aku hancur. Tidak ada yang menguatkan diriku selain aku sendiri. Aku
pun tidak percaya sama Tuhan. Dia telah menjauhkan orang-orang yang aku sayang
termasuk kamu, Ra. Hingga akhirnya setelah aku stres hampir satu tahun, saat
aku di rumah sakit untuk terapi ada salah satu pasien yang membaca Alqur’an,
hatiku menjadi sangat tenang, pikiranku jadi terbuka lebar. Dan saat itu juga
aku mulai mengenal apa itu Islam hingga aku putuskan aku menjadi muallaf, Ra.”
Tak terasa Gilang yang
cerita singkat itu membuat hatiku bergetar dan tak kuasa menahan air mata. Aku
tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja aku dengar. Antara senang dan sedih
bercampur menjadi satu. Aku tidak tahu skenario apa yang direncanakan semesta
untukku.
“Ra, kamu kok nangis,
kenapa?” tanya Gilang membuyarkan lamunanku.
“Nggak ada apa-apa kok,
Lang. Maafin aku saat kamu terpuruk aku tidak bisa membantumu,” jawabku sedikit
gemetar.
“Bukan salahmu, Ra.
Mungkin ini cobaan buat aku yang telah membuatmu hancur saat itu, dan aku
terima konsekuensi yang diberikan Allah untukku, Ra. Dan alhamdulillah aku bisa
bertemu denganmu kembali,” ucap Gilang dengan tersenyum.
Aku tersipu malu, “Hehe
iya alhamdulillah ya Lang, aku nggak nyangka bisa bertemu kamu di sini.”
Setelah kejadian itu,
Aku dan Gilang akhirnya dekat kembali. Selain sebagai rekan bisnis, perasaan di
antara kita tidak berubah. Aku merasakan sosok Gilang yang benar-benar
dikirimkan Allah untukku selamanya. Hingga akhirnya, setelah beberapa bulan
kemudian, Gilang melamarku. Bagaikan mimpi yang tak bisa ditebak. Aku sangat
bersyukur bahwa semesta benar-benar menyayangiku. Rencana Allah memang luar
biasa. Sebagai manusia kita harus selalu bersabar dan ikhlas kepada Allah.
Ujian dari Allah adalah bukti bahwa Allah sayang dengan hambanya. Semua yang
kita inginkan akan kita dapatkan jika kita selalu minta yang terbaik dari
Allah. (Fina Rahmatika/1740210038)

0 Komentar