Cerpen : Berpisah untuk Kembali



Manusia paling rapuh yang tidak pernah mengharap perhatian dari manusia lain meskipun terkadang membutuhkan bantuan orang lain karena makhluk sosial adalah aku. Aku manusia biasa, sangat biasa, tidak banyak orang mengenalku. Bungkam adalah caraku memahami orang lain. Namun mereka menganggapku aneh, kolot, menjijikkan. Semesta selalu memihak mereka, semesta tidak menampakkan dirinya, entah rencana apa yang sedang semesta rencanakan untukku. Apakah kali ini semesta akan menjatuhkanku dari bangunan yang sangat tinggi? Aku hanya menelan ludah dan tersenyum pahit mendengarkan omongan orang lain. Samar aku mendengarnya, namun begitu mudah masuk ke dalam memori otak jangka panjang yang aku miliki. Menyakitkan memang untuk orang yang selalu didewakan manusia lain, namun tidak denganku. Semua tidak terasa menyakitkan sama sekali. Entah bius apa yang telah menjalar di saluran darah sehingga aku tidak bisa merasakannya.

Aku hidup dalam sebuah keluarga utuh, normal, namun dingin. Menyakitkan—sangat menyakitkan. Mereka yang menganggap aku beruntung mempunyai sebuah keluarga yang utuh adalah salah. Hujan badai datang menerpa namun tidak ada yang mendekapku, tidak ada yang melindungiku, meskipun terkadang  rasa cemas menghantui setiap anggota keluarga yang kebetulan sedang berada di tempat yang terpisah, tetap saja di bawah atap yang sama mereka mencari kehangatan untuk diri sendiri begitu juga aku, aku selalu menyalakan api yang sanggup membakar perasaanku, yang sanggup menghangatkan rasa yang entah bagaimana, membayangkan saja hampir tidak sanggup. Memang benar, aku terlahir di keluarga sederhana, cukup, dan dipandang sebelah mata. Pandangan derajat yang dimiliki manusia berbeda dengan pandangan Tuhan. Apa yang menurut kita benar belum tentu benar di mata manusia lain. Harta dan tahta sanggup merubah kepribadian seseorang. Memang kenapa jika aku miskin? Apakah miskin merupakan sebuah aib yang perlu disembunyikan? Tidak. Jelas tidak. Tidak ada orang yang terlahir miskin di dunia ini. Rasa bersyukur yang kian langka membutakan manusia sehingga setiap manusia mendapat julukan si miskin dan si kaya. Tuhan yang diyakini hanya ada satu tapi nyatanya sanggup mengubah pola pikir manusia dalam hal menyembah. Perbedaan yang terjadi menjadi bukti manusia mempunyai pola pikir yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. 

“Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini.”

Sungguh, kalimat itu masih jelas terngiang di kepalaku hingga saat ini. Mimpi yang telah aku rajut seketika pecah berserakan ketika sosok pria yang telah aku yakini sebagai pasangan hidupku memutuskan untuk pergi meninggalkan diriku. Inilah yang aku takutkan sejak dulu.  Perbedaan yang tidak bisa disamakan sampai kapanpun, meskipun telah berusaha menyamakan dengan mengorbankan segala sesuatu, namun jika semesta tidak mengijinkan semua akan menjadi debu yang terbang tak kasat mata, tak ada artinya, sia-sia.

Pria yang aku kenal sejak masih di bangku sekolah hingga aku lulus sarjana tidak bisa menjamin untuk tingal bersama selamanya. Alasan klasik yang bisa ditebak dan sangat menyakitkan membuat kepalaku sedikit pusing tak tertahankan. Seharusnya aku tahu beginilah akhirnya, namun ego yang memaksakan keinginan yang tidak cocok seolah menjadikan perbedaan itu tidak ada. 

“Kenapa, Lang?” tanyaku sedikit gemetar menahan air mata.

“Kita berbeda,” jawab Gilang mengalihkan pandangan.

Gilang memegang tanganku. “Maaf, aku telah mengingkari janji kita, Ra. Aku tahu ini ketakutan terbesarmu. Aku benar-benar minta maaf, Ra.”

Aku yang menahan air mata tidak kuasa lagi untuk menahannya. “it’s okay, Lang. Memang Tuhan punya rencana yang lebih indah dibalik ini semua. Seharusnya kita dari awal tidak memulai hubungan ini. Tapi kita sama-sama tidak bisa menahan ego kita. Kita memang berbeda. Kita tidak bisa besatu sampai kapanpun.”

“Ara, ini berat. Ini keputusan yang sangat berat. Di satu sisi aku tidak ingin melepaskanmu. Namun, di sisi lain orang tuaku yang memaksaku untuk meninggalkanmu, Ra,” Gilang mulai berkaca-kaca.

Aku berusaha tersenyum, “Sudah, Lang. Ini sudah keputusan yang tepat. Kamu berhak bahagia lebih dari ini. Jangan nangis. Cengeng banget sih kamu hehe.”

“Kamu memang perempuan paling baik yang aku kenal, Ra. Aku benar tidak ingin meninggalkanmu. Jika Tuhan kita satu, mengapa kita tidak bisa bersatu hanya karena berbeda tempat ibadah?”

Pertanyaan Gilang yang telah berlalu selama satu tahun itu masih jelas terngiang di kepalaku. Perbedaan keyakinan yang telah memisahkan aku dengannya. Padahal rencana umtuk merancang masa depan telah ada di depan mata. Skenario semesta memang terkadang lucu. Aku kira semesta telah menjadi temanku, namun dia tetaplah musuhku.

Tiga tahun sudah kejadian itu belalu, aku tidak mengetahui kabar Gilang. Aku sibuk bekerja sehingga membuatku lupa dengan rasa sakit yang hampir membuatku bunuh diri. Sungguh luar biasa gila aku pada saat itu. Namun perlahan aku mulai memaafkan keadaan hingga aku terbiasa dengan kepergian Gilang. Semesta tidak menggangguku kali ini. Entah rencana apalagi yang ia persiapkan untuk membunuhku lagi. Kehidupanku kini normal kembali. Sempat menyalahkan Allah atas perpisahanku dengan Gilang adalah hal paling berdosa yang pernah aku lakukan. Mengapa aku hancur sedangkan Allah pasti mempunyai rencana yang tepat untukku.

Tok tok tok!
 Suara seseorang mengetuk pintu ruangan kerjaku.

“Ya silahkan masuk,” ucapku sembari membaca dokumen-dokumen penting dan tidak memperhatikan siapa yang datang.

“Maaf, Bu. Ini ada tamu yang katanya mau bekerja sama dengan bu Ara”

Aku berdiri sembari menyambut tamu itu, “Gilang?”

Aku melihat Gilang berdiri mematung di depanku. Aku benar-benar melihatnya kembali. Aku hanya bermimpi kan? Katakan! Cepat katakan jika aku sedang bermimpi. Tidak mungkin Gilang ada di sini. Dia telah enyah dari muka bumi ini. Mengapa semesta lagi-lagi ingin membunuh diriku? Apa salahku kepadamu wahai semesta? Hatiku kembali bergetar. Teringat kenangan di masa lalu antara aku dan Gilang. Ini buruk sekali.

Gilang tercengang, “Ara? Ini bener Aira Bilqis Husein?”

Aku salah tingkah, “Eh iya benar, Gilang. Silahkan duduk”

“Nggak nyangka ya, Ra. Ternyata kamu bakal jadi partner kerja aku. Kamu apa kabar, Ra?”

“Alhamdulillah baik, Lang. Kalau kamu?” aku mencoba memberanikan untuk menanyakan kedaannya kembali.

“Alhamdulillah baik juga, Ra meskipun kemarin sempat jatuh sejatuh-jatuhnya,” jawab Gilang sembari senyum getir.

Aku terdiam, sejak kapan Gilang mengucapkan rasa syukur seperti itu? Ada apa ini? Apa yang tidak aku tahu? Ah ini pasti Gilang hanya salah ucap.

“Kenapa kok bisa gitu, Lang?” aku mencoba menghilangkan pikiran yang tidak jelas itu.

“Apa kamu tahu, Ra. Setelah kamu pergi dari hidupku keluargaku jadi hancur. Ayah dan ibuku bercerai. Aku hancur. Tidak ada yang menguatkan diriku selain aku sendiri. Aku pun tidak percaya sama Tuhan. Dia telah menjauhkan orang-orang yang aku sayang termasuk kamu, Ra. Hingga akhirnya setelah aku stres hampir satu tahun, saat aku di rumah sakit untuk terapi ada salah satu pasien yang membaca Alqur’an, hatiku menjadi sangat tenang, pikiranku jadi terbuka lebar. Dan saat itu juga aku mulai mengenal apa itu Islam hingga aku putuskan aku menjadi muallaf, Ra.”

Tak terasa Gilang yang cerita singkat itu membuat hatiku bergetar dan tak kuasa menahan air mata. Aku tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja aku dengar. Antara senang dan sedih bercampur menjadi satu. Aku tidak tahu skenario apa yang direncanakan semesta untukku.

“Ra, kamu kok nangis, kenapa?” tanya Gilang membuyarkan lamunanku.

“Nggak ada apa-apa kok, Lang. Maafin aku saat kamu terpuruk aku tidak bisa membantumu,” jawabku sedikit gemetar.

“Bukan salahmu, Ra. Mungkin ini cobaan buat aku yang telah membuatmu hancur saat itu, dan aku terima konsekuensi yang diberikan Allah untukku, Ra. Dan alhamdulillah aku bisa bertemu denganmu kembali,” ucap Gilang dengan tersenyum.

Aku tersipu malu, “Hehe iya alhamdulillah ya Lang, aku nggak nyangka bisa bertemu kamu di sini.”

Setelah kejadian itu, Aku dan Gilang akhirnya dekat kembali. Selain sebagai rekan bisnis, perasaan di antara kita tidak berubah. Aku merasakan sosok Gilang yang benar-benar dikirimkan Allah untukku selamanya. Hingga akhirnya, setelah beberapa bulan kemudian, Gilang melamarku. Bagaikan mimpi yang tak bisa ditebak. Aku sangat bersyukur bahwa semesta benar-benar menyayangiku. Rencana Allah memang luar biasa. Sebagai manusia kita harus selalu bersabar dan ikhlas kepada Allah. Ujian dari Allah adalah bukti bahwa Allah sayang dengan hambanya. Semua yang kita inginkan akan kita dapatkan jika kita selalu minta yang terbaik dari Allah. (Fina Rahmatika/1740210038)


Posting Komentar

0 Komentar