ASA JATMIKO

( Seniman, Budayawan, dan Sastrawan)

            Asa Jatmiko, kelahiran Purbalingga, 7 Januari 1976, anak pertama dari pasangan FX Djaiman dan V. Sunarti. Semenjak sekolah menengah pertama, ia sudah menyukai dunia seni. Di kemudian hari ia lebih suka untuk menulis puisi, cerpen. essai budaya, artikel, naskah drama, naskah film. Juga menggarap karya seni pertunjukan teater dan film. Ia mendirikan tiga lembaga yang juga dipimpinnya, yakni: Iniibubudi Publishing, Veho Band dan Njawa Teater.

            Menurut Asa Jatmiko Budaya merupakan hasil dari budi dan pikiran - pikiran yang luhur dan itu berlangsung bertahun - tahun, sehingga menjadi kebiasaan. Maka kemudian tidak semua kebiasaan adalah budaya. Contohnya setiap hari membeli barang dan tak pernah ada kembalian, padahal uang yang dibuat membeli barang lebih itu merupakan kebiasaan yang tak bisa dikatakan budaya, sebab tidak memberikan budi yang baik Dan budaya di sini merupakan kebiasaan yang berlangsung lama dan menjadi sebuah nilai bersama. Misalkan budaya pondok pesantren yang secara makan mereka kepungan. Dan setiap budaya tidak bisa disamakan di masyarakat.Berbeda dengan kesenian yang merupakan temporer dalam 3 atau 5 tahun bisa mati.

            Antara budaya dan kesenian walaupun berbeda, namun keduanya memiliki suatu kekuatan tersendiri dan menurut beliau" kesenian pada akhirnya mampu menjadi kebudaayan, sebab kesenian merupakan anak daei kebudayaan ketia kemudian menjadi budaya itu sangat mungkin, dan pengujinya nanti adalah waktu. Kalau kesenian K POP kali ini dilihat dari yuotube ataupun lainnya itu bisa saja menjadi kebudaayan kita kalau bertahun - tahun menjadi aktif dan bertahan, namun kalau hanya bertahan 1 tahun atau 2 tahun itu tidak bisa menjadi kebudayaan, hanya kesenian. Beberapa hal yang sama itu nilai dari masyarakat. Yang membedakan antara budaya dan seni adalah simbol, di dalam keswnian dan kebudayaan menggunakan 2 unsur yaitu nilai dan simbol. Kalau keduanya tidak ada maka akan pudar, seperti kita bersalaman itu merupakan simbol bahwa kita ada keterikatan" Ujar Asa Jatmiko.

Perjalanan seorang Asa Jatmiko dalam buda dan seni sangat panjang beliau berpropes dalam sebuah kesenian atau budaya menjadi sebuah hobbi dan hobbi itu menjadi manfaat untuk orang banyak " itu semua tinggal pilihan, bukan berarti bahwa hidup di kesenian itu yang paling baik. Tapi kebetulan karena pada saat awal benihku di situ gitu loh. Namun, apakah profesi - profesi lain tidak baik, semua profesi itu baik. Tinggal bagaimana cara kita bejuang, walaupun sekecil apapun profesinya. Jadi saya tidak ingin profesi yang lain tidak menjadi minor ataupun tidak baik. Saya kira karena saya tidak mampu untuk profesi yang lain. Kedua adalah di kesenian ataupun kebudayaan bukan saya yang memberi mereka, tapi merekalah yang memberikan kepada saya banyak pengalaman dan pembelajaran. Seperti itu tadi, di sini ada nilai yang saya terapkandan simbol yang dimainkan, itu memberi pengaruh terhadap cara berpikir, pola hidup, dan sebagainya. Dan yang ketiga adalah kesenian merupakan kalau saya seorang kreator saya harus bisa menjaga ( ini belok ini ) istilah nya seperti itu. Itu cara mengingatkan secara kesenian, bahwa seumpama pemerintah melakukan kesalahan, kita tidak demo tapi kita mengaspirasikan suara lewat kesenian. Sehingga kesenian bisa menjadi alat kesadaran dan edukasi bersama". Ucap Asa Jatmiko.     Kesenian bisa menjadikan suatu edukasi dan suatu langkah menjadi orang yang sukses, dan cara seorang Asa Jatmiko untuk membagi waktu untuk mengatur antara kesenian dan pekerjaan adalah " Kalau kesenian istri pertama, kalau pekerjaan di kantor itu istri kedua... Hahaha ( sambil guyon).Maksudnya karena memang harus absen, harus menyelesaikan administrasi dan lain sebagainya, itu buat saya bukan sebuah pekerjaan, karena itu merupakan tanggung jawab saja. Saya lebih terforsir dan menguras energi ketika saya diajak untuk berdiskusi tentang kesenian atau bagaimana sebaiknya katakan lah di djarum menedukasi karyawannya agar menjadi baik dalam menikmati kesenian atau dalam memelihara kesenian. Jadi apakah kesenian dari Jogja menjadi bekal dalam pekerjaan aku kok belum pernah menemui itu, artinya prinsip - prinsip kesenian yang baik dalam pekerjaan saya sangat dihargai dan harus menjadi diri sendiri dan harus menghargai mereka dalam pekerjaan. Dan pekerjaan dijadikan simbiosis mutualisme dalam berkarya.

 Berbicara kesenian di Kudus, beliau membagi kesenian menjadi 2 macam, yaitu naungan instansi dan komunitas. Keduanya sama - sama penting, namun yang di kategori komunitas tanggapan (undangan), sebab minat orang untuk mengundang kesenian, misalkan kethoprak, ataupun yang lain makin lama makin hilang. Dan daya untuk mengelola untuk kemandirian masih kurang, jadi kelompok teater maupun kesenian yang masih bisa berkembang kebanyakan dari institusi, misalkan teater sekolah atau kampus, dibandingkan dengan kelompok komunitas. Beliau sangat anti dalam mengkritisi sebuah pementasan kesenian, beliau malah suka membantu pementasan tersebut selagi beliau mampu, sebab pementasan yang dibuat harus diapresiasi bukan untuk dikritik. Beliau malah suka menggembleng mereka yang akan pentas saat latihan atau sebelum pementasan.

Bapak Asa Jatmiko orangnya sangat membantu 100% tenaga dalam sebuah pra pementasan kesenian sampai pementasan berakhir, bahkan beliau seringkali tak mau dibayar dengan uang ataupun materi, namun beliau hanya ingin kesungguhan dalam melestarikan kesenian dan kebuadayaan yang akan dipentaskan dan menjadikan sebuah pementasan yang bagus, sebab bagi beliau pementasan merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi penyelenggara dan penonton. Istilah beliau " nek kowe takon bayaran piro kowe gak bakal sanggup, nek kowe njaluk nyowo nyoh tak kek no" dalam artian kalau kamu bersungguh - sungguh itu sudah merupakan bayaran bagi beliau.

Motivasi beliau dalam berkarya memang patut diacungi jempol, bahkan yang terbaru Asa Jatmiko membuat karya "PAMFLET KRETEK". Dan beliau berucap " Ya aku malah kaget dengan Pamflet kretek digunakan sebagai materi lomba di Tasikmalaya dan menjadi juara pertama tingkat nasional dan yang terakhir sudah ada yang mengupload di youtube, dan saya senang gitu, tapi menulis entah itu naskah, puisi, pikiran - pikiran tentang kebudayaan itu merupakan sebuah kebutuhanku, bukan karena saya menulis untuk djarum atau untuk sesuatu yang lain itu tidak pernah, saya menulis karena menulis. Saya menulis kretek karena saya kecewa dengan pemerintah karena regulasi, dan tanaman kretek yang dibegitukan. Tapi bukan karena djarum dan bukan rangka apa.

Banyak yang bertanya, seorang Asa Jatmiko di Kudus kok banyak yang kenal dalam hal seni itu siapa ? Apakah bialau sendiri yang ikut - ikut atau karena apa ? Dan jawaban beliau " Aku gak pernah merefleksikan hal seperti itu ya, sebab mulai dari SMP, SMA, dan bahkan kuliah saya memilih hidup di situ, kalau misalkan ada undangan mungkin seperti itu, tapi kalau temen - temen merasa pernah berproses dengan Asa Jatmiko walaupun hanya beberapa kali ketemu latihan dan termotivasi itu mungkin juga, tetapi saya lebih banyak berinteraksi dengan teman - teman seperti itu. Tidak hanya di ruangan gitu, bahkan di luar kota misalkan saya ketemu dengan teman - teman saya siap. Sebenarnya besok April tanggal 13 - 14 ada event teater pelajar di Jakarta dan aku juga menjadi juri, namun adanya covid 19 ini kok menjadi ditunda. Terakhir ya itu di Solo sama festival teater di Kudus. Dan motivasiku bukan hanya mencari sedulur atau saudara dan syukur - syukur dapat berkontribusi di dalam nya, tapi kalau toh tidak minimal saya pulang dapat kawan baru.

            Kalau melihat kesenian di Kudus saat ini misalkan seperti tari kretek, terbang papat, dan sebagainya. Jika dilihat saat ini mulai menurun dan tanggapan atau harapan asa jatmiko sangat besar seperti apa yang dikatakannya " Setiap era punya generasi, ada yang disebut generasi emas pada tahun berapa itu di Kudus dan tiga tahun terakhir ini memang kita tidak melihat lagi orang - orang yang militansinya tinggi dalam berkesenian. Membaca kemungkinan kaderisasi aku dan kawan - kawan barangkali kurang untuk kemudian mereka militan di kesenian, artinya bahwa berkesenian butuh totalitas, butuh keseriusan, dan butuh mendalaminya. Karena pertaruhan di kesenian juga berat, wes kere rak nduwe opo - opo tapi sok idealis seperti itu lah gambarannya. Yang kedua barangkali arus informasi arus energi dari IT, sektor itu sangat nggembosi, maksudnya dulu itu sebelum ada medsos kita semua menulis dengan syarat, kalau tulisanmu dianggap sebagai tulisan kalau sudah masuk koran, jadi siapa yang sudah pernah dipublikasikan oleh koran maka tinggal lanjutkan, sebab di koran tulisan kita diuji oleh redaktur. Tapi begitu medsos ada semua orang bisa menulis apa saja, dan mereka sendiri lah yang menjadi redaktur di akunnya masing - masing, sehingga tulisan yang benar itu sesuai kaidah dan secara sastra terpenuhi itu bagaimana ? dan itu tidak ada. Kecuali, mereka terlibat dalam sastra dan sebagainya. Nah diera kebebasan ini yang tidak diimbangi dengan generasi hari ini dengan literasi tentang membaca kurang.

Tapi itu tadi semua orang sibuk dengan kehidupannya masing - masing, sehingga literasi mereka kurang. Dan yang terakhir, apakah anak - anak sekarang mau juga untuk melestarikan...? Mereka lebih banyak ngomong, kalau diomongi dibiarkan dan meremehkan, kira - kira seperti itulah. Kemudian disegala sektor tidak hanya menulis saya kira, dikesenian pada umumnya saya kira semacam itu, sementara unit kebutuhan akan hidup dan sebagainya makin resah.

            Dalam suatu pementasan puncak dari kesuksesan acara tersebut berjalan menurut beliau adalah " Puncak kesuksesan pementasan adalah kesesuaian apa yang dimaui sutradara dengan apa yang di dapat oleh penonton. Misalnya begini, Naskah Aduh karya Putu Wijaya yang menceritakan orang sakit di Bali yang seperti halnya corona ini loh yang sakit sakit sendiri diinjak injak orang sampai ada yang berkata kamu ini kenapa to. Orang mati saja dipermasalahkan dan ribut, Putu wijaya cuma ngomong kepekaan manusia hari ini berkurang, ketika sampai di penonton saat itu merupakan sebuah kesuksesan, misalkan di pementasan yang lain kemudian Putu Wijaya lewat naskah yang sama dengan teater yang lain misalnya dari Bandung tapi tujuan sutradara dalam naskah misalnya orang yang sakit itu adalah orang yang bisa mengeluarkan kesakitannya, garapane kemudian orang menjadi sakit semua yang sehat malah menjadi wong edan gitu. Puncak kesuksesannya ketika yang menjadi tujuan sutradara tercapai dan pesan yang akan disampaikan penonton tersampaikan".

Dan terakhir harapan seorang Asa Jatmiko untuk media dalam kesenian adalah "saya tidak ingin bahwa kesenian itu bergantung kepada media, tetapi media yang harus mencari kesenian. Media yang harus mencari sisi apa yang terjadi di tengah masyarakat terutama di sektor kesenian. Seniman hanya masturbasi saja ketika dia membuat acara kemudian dia memberitahu wartawan, media, dan sebagainya. Untuk ditulis, ditayangkan di media itu onani. Yang benar adalah biarlah peristiwa kesenian itu terjadi menjadi peristiwa, media datang menulis itu karena kebutuhan medianya, bukan kesenian yang butuh media. Karena sejak dulu, ketika manusia tau menulis, menggambar di goa - goa dan sebagainya, itu tidak butuh media. Artinya bahwa antara untuk mengkomunikasikan dengan orang lain sampai ketutup letusan gunung dan lain sebaginya hari ini kita lihat lagi piramida atau prasasti yang ada tulisan - tulisan, mereka gak butuh itu. Tapi kita yang mencari informasi ke sana, biarlah kesenian, kebudayaan peristiwa nya menjadi mandiri. Kalau misalnya bagus, itu tidak mungkin, karena itu kebutuhan dan sekarang media akan menjadi faktor yang ikut menjadi penopang. Makanya kemudian teman-teman yang berada di media memiliki kesadaran serius bahwa, kesenian dan kebudayaan itu penting untuk mengedukasi, penting bahwa nilai ini disebarkan, dikabarkan ke yang lain. Harapan saya teman - teman di media memiliki kepekaan seperti itu". Pungkas Beliau.


Achmad Fahmi N W 1740210035

  

 

   

   

 


Posting Komentar

0 Komentar